Social Icons

Sepasang Enggang




Monday, August 25, 2014

Motivasi "Burung Elang"

Burung Elang
Suatu ketika, di sebuah lereng, tersebutlah seonggok sarang Elang. Di dalamnya terdapat 6 butir telur yang sedang dierami induknya. Suatu hari, terjadi sebuah gempa kecil dan mengakibatkan sebutir telur mengelinding ke bawah. Namun, induk Elang tak mengetahui hal itu. Untunglah, telur itu kuat, sehingga kemudian benda itu malah masuk ke dalam sebuah sangkar ayam. Seekor induk ayam yang sedang mengeram, lalu malah memasukkan telur itu ke dalam buaian bersama telur-telur ayam lainnya.

Beberapa saat kemudian, menetaslah telur itu, dan keluarlah seekor anak Elang yang gagah. Namun, sayangnya, ia dilahirkan di tengah keluarga ayam. Lama kemudian Elang kecil itu, tumbuh bersama anak-anak ayam lainnya. Dan si Elang kecil itupun percaya bahwa ia adalah seekor anak ayam. Ia juga mencintai sangkar dan induk ayam, namun, ada keinginan lain di hati kecilnya.

Elang kecil itu, suatu ketika, melihat elang-elang besar yang sedang mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa. Ia kagum sekali dengan kegagahan mereka. "Oh,"...Elang kecil itu memekik, "Andai saja, aku bisa terbang seperti burung-burung gagah itu." katanya sambil menatap langit. Anak-anak ayam lain tertawa mencericit. "Ha ha ha...kamu tak akan bisa terbang bersama mereka, " ujar seekor anak ayam, "Kamu adalah ayam, dan ayam tak bisa terbang!" Hahahaha..... Tawa anak-anak ayam itu kembali memenuhi telinga si Elang kecil. "Oh, andai saja..." ujarnya pelan. Elang kecil itu kembali menatap langit. Menatap keluarga yang sebenarnya di atas sana.

Setiap waktu, saat Elang itu mengungkapkan impiannya, ia selalu diberi nasehat, bahwa itu adalah hal yang mustahil yang bisa dilakukannya. Dan hal itulah yang terus dipelajari oleh si Elang, bahwa, ia tak mungkin bisa terbang, dan mengepakkan sayapnya di angkasa. Lama kemudian, si Elang berhenti bermimpi, dan melanjutkan hidupnya sebagai ayam biasa. Akhirnya, setelah sekian lama hidup menderita, dikekang dengan semua impiannya, si Elang pun mati.

Belajar Dari Merpati

Belajar Dari Merpati
  1. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “tidak”! Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya.
  2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah “tidak”!
  3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya, “tidak”!
  4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya, “tidak”!
  5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “kepahitan” sehingga tidak menyimpan dendam.
Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi, dan menghargai! Setuju..?

Sunday, August 24, 2014

Lagu Burung Hantu

 

Matahar terbenam, hari mulai malam
Terdengar burung hantu, suaranya merdu
Kukuk, kukuk, kukuk kukuk kukuk
Kukuk, kukuk, kukuk kukuk kukuk



Bait lagu Burung Hantu, Liriknya mungkin tidak sesuai dengan kenyataannya. Jika kita perhatikan, mana ada ketika malam hari orang sedang sendirian lalu mendengar suara burung hantu dan berkata "ya... merdu benar, ya suara burung hantu itu, jadi ingin terlelap tidur nih".

Sesungguhnya Burung hantu suaranya tidak merdu tapi menyeramkan....



Lagu Burung Kakaktua

Burung kakaktua
hinggap di jendela
Nenek sudah tua
giginya tinggal dua 


Trek-jing … trek-jing …
Trek-jing tra-la-la 


Trek-jing … trek-jing …
Trek-jing tra-la-la 


Trek-jing … trek-jing …
Trek-jing tra-la-la 


Burung kakaktua 



Lagu ini mengajarkan anak-anak untuk berani ngatain orang tua. Liat saja liriknya, "nenek sudah tua, giginya tinggal dua", kejam banget tuh kalau ada anak yang berani ngatain neneknya kayak gitu. Kalaupun gigi nenek itu memang tinggal dua, tapi jangan disebut juga dong, didiemin saja. Nenekkan juga manusia.... Ha ha ha...

Bangau yang serakat

BANGAU YANG SERAKAH
13035657751554699551


Di tepian sebuah danau hiduplah seekor burung bangau. Dengan keahlian dan kelincahannya berburu membuat burung bangau itu tidak kekurangan makanan.

Namun sekarang ini kehidupan Bangau sedang susah. Keadaannya memprihatinkan. Usia tua telah menggerogotinya. Hingga ia tidak selincah dulu lagi dalam mencari makanan. Lama-kelamaan tubuh Bangau menjadi kurus.

“Lama-lama aku bisa mati,” pikir Bangau. “Aku harus mencari akal. Bagaimana caranya aku bisa tetap makan tanpa bersusah payah.”

Lalu Bangau pun mulai berpikir dengan keras. Dan terbetiklah sebuah ide di kepalanya. Ide itu melintas ketika dilihatnya sebuah mesin pemompa air yang digunakan petani untuk mengairi sawah.

“Aku tahu!” katanya. Lalu Bangau mulai menjalankan rencana jahatnya.

Hari ini Bangau sengaja menampilkan wajah sedih. Seharian ia hanya termenung saja. Ikan dan katak yang lewat dibiarkannya berlalu. Hal ini tentu mengundang perhatian seluruh penghuni danau.

“Burung Bangau, kenapa kau hanya termenung saja?” tanya seekor Ketam.

“Oh Ketam, aku sangat sedih,” Bangau mulai menjalankan aksinya.

“Apa yang membuatmu sedih, Bangau?” tanya Ketam. “Katakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu.”

“Aku bukan sedih karena memikirkan diriku. Aku sedih karena memikirkan nasib kalian semua,” kilah Bangau.

Percakapan Bangau dan Ketam mengundang perhatian ikan-ikan di sekitar mereka. Mereka kemudian berkumpul untuk mendengarkan percakapan Bangau dan Ketam.

“Kalian lihat mesin penyedot air itu?” tanya Bangau seraya menunjuk sebuah mesin pompa air yang diletakkan orang di tepi danau. Mesin itu sedang digunakan petani untuk mengairi sawah.

“Ada apa dengan mesin itu, Bangau?” tanya ikan-ikan.

“Itulah yang membuatku sedih,” kata Bangau. “Aku mendengar para petani itu bercakap-cakap kalau mereka akan menggunakan mesin itu untuk mengeringkan danau ini.”

“Benarkah itu Bangau?” tanya ikan-ikan.

“Coba kalian perhatikan sendiri. Air di danau ini semakin berkurang. Dan mesin itu terus saja bekerja menyedot air. Lama-lama danau ini akan kering,” kata Bangau.

“Lalu bagaimana dengan nasib kami kalau danau ini dikeringkan?” ikan-ikan menjadi sedih. Tanpa air mereka tidak akan dapat hidup.

“Tenang. Tenang semua,” kata Bango. “Aku punya jalan keluar untuk kita semua.”

“Coba katakan kepada kami.”

“Tak jauh dari danau ini ada sebuah danau lain yang lebih besar. Danau itu sangat bagus. Dan airnya juga jernih. Aku telah terbang kesana untuk melihatnya. Kalian bisa pindah kesana kalau kalian mau,” kata Bangau.

“Tapi bagaimana caranya kami dapat pindah?”

“Itu pun sudah aku pikirkan. Aku bersedia memindahkan kalian semua ke danau yang baru,” kata Bangau.

“Terima kasih Bangau,” kata Ikan-ikan serempak. Mereka sangat gembira menerima usulan Bangau.

“Tapi aku tidak bisa memindahkan kalian semua sekaligus,” kata Bangau tersenyum.

“Tak apa. kami akan sabar menunggu giliran,” kata Ikan-ikan.

Maka sejak hari itu sibuklah Bangau memindahkan ikan-ikan itu ke danau baru yang dijanjikan. Tiap hari Bangau membawa terbang ikan-ikan itu ke tempat yang jauh.

Adapun sebenarnya burung Bangau tidak memindahkan ikan-ikan ke danau yang baru. Tetapi ia membawa ikan-ikan itu ke suatu tempat untuk kemudian dimakannya sendiri.

Kini semua ikan telah habis dimakannya. Tinggallah seekor ketam yang belum lagi dipindahkan. Dia yang paling akhir yang akan dipindahkan.

“Bagaimana aku membawamu wahai Ketam. Tubuhmu sangat keras. Aku tidak mungkin membawamu dengan paruhku,” kata Bangau.

“Tak apa, biarkan aku berpegangan pada lehermu, Bangau,” kata Ketam.

Ia kemudian berpegangan pada leher Bangau dengan capitnya. Tanpa rasa curiga Bangau membawa ketam terbang jauh. Namun sekian lama mereka terbang, danau itu belum juga kelihatan.

“Di mana danau itu, Bangau?” tanya Ketam.

“Sebentar lagi,” sahut Bangau. Ketam mencoba bersabar. Walau capitnya telah lelah berpegangan pada leher Bangau.

Dari kejauhan dapatlah ia melihat duri-duri ikan berserakan. Tahulah ia kalau selama ini Bangau telah menipu mereka.

“Bangau, aku membatalkan keinginanku untuk pindah ke tempat yang baru,” kata Ketam.

“Lalu bagaimana?” tanya Bango.

“Aku ingin kembali ke tempatku.”

“Kenapa?”

“Kau telah berbohong, bukan? Kau tidak memindahkan ikan-ikan itu ke tempat yang baru. Tapi kau memakan mereka semua. Betul atau tidak?”

Bango tertawa. “Kamu sungguh cerdik, Ketam.”

“Kembalikan aku ke dalam danau! Kalau tidak aku akan menjepit lehermu sanpai putus!” kata Ketam mengancam.

Bango ketakutan dan mengembalikan Ketam ke danau semula. Ketika telah sampai Ketam tidak mau melepaskan leher Bangau. Ia justru mencepitnya erat-erat. Hingga akhirnya Bangau itu mati.

Sepeninggal Bangau semua binatang yang masih tertinggal dalam danau hidup dengan tenang.

Burung Pleci

Burung Klobri

 
Blogger Templates